Laju nilai tukar Rupiah berada di zona hijau sepanjang pekan kemarin. Laju Rupiah menurut kurs tengah Bank
Indonesia (BI) bergerak di atas target support Rp12.123 per USD dan
berada di kisaran Rp12.000-11.750 per USD.
Kepala Riset Trust
Securities Reza Priyambada mengatakan, penguatan pada Yen dan Won di
awal pekan berimbas pada menguatnya beberapa mata uang emerging market
dan Rupiah menjadi salah satu mata uang yang menguat. Yen menguat
seiring masih adanya kekhawatiran akan kemungkinan kembali meningkatnya
tensi geopolitik di Timur Tengah meningkatkan permintaan akan mata uang save heaven.
"Rilis
berita mengenai inflasi dan neraca perdagangan juga turut memberikan
sentimen positif. Ancaman TDL yang mulai diberlakukan 1 Juli tampaknya
sementara dihiraukan," ujarnya dalam riset, Sabtu (5/6/2014).
Menurutnya,
rilis inflasi yang lebih rendah dari perkiraan meskipun terlihat lebih
tinggi dari rilis sebelumnya yang dibarengi dengan surplus neraca
perdagangan dimana lebih baik dari bulan sebelumnya yang mencatatkan
defisit memberikan sentimen positif tambahan bagi Rupiah. Selain itu,
terapresiasinya Yuan seiring rilis indeks manufaktur China turut
menambah sentimen positif bagi Rupiah.
Hal yang sama terjadi
pada laju poundsterling dimana terapresiasi dengan ekspektasi indeks
manufakturnya akan meningkat. Pelemahan pada Yen dimanfaatkan dolar
untuk berbalik menguat ternyata berimbas negatif pada laju nilai tukar
Rupiah yang berbalik melemah.
Di sisi lain, munculnya pemberitaan
di sejumlah media bahwa akan terjadi pelemahan Rupiah bila salah satu
pasangan Capres dan Cawapres menang dalam pemilu nanti membuat pasar
kembali khawatir dan lebih memilih wait & see maupun menjauhi pasar.
"Oversubscribe-nya
obligasi perdana Eurobond juga tidak mampu memberikan sentimen positif
pada laju Rupiah. Namun demikian, laju Rupiah tertolong di akhir pekan
dengan penguatan sejumlah mata uang Asia," jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar