Bank terbesar Eropa, HSBC Holdings Plc
(HSBA), dikabarkan berencana untuk menutup cabangnya di Libya. Ini
terjadi lantaran bank tersebut dinyatakan tidak memenuhi kriteria yang
telah diterapkan.
Kantor perwakilan di Tripoli tersebut mempekerjakan kurang dari 10 orang, dan gagal melewati berbagai kriteria yang ditetapkan oleh pemegang saham agar dapat melanjutkan operasinya di sana.
Seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan kepada Bloomberg, Senin (7/7/2104), rencana tersebut masih dirahasiakan. Pada Juni tahun lalu, HSBC berencana untuk menjual sejumlah operasi di Irak dengan alasan yang sama.
Chief Executive Officer (CEO) HSBC, Stuart Gulliver, berusaha untuk menyederhanakan struktur bank dan meningkatkan pendapatannya dengan cara menjual aset dan fokus pada pertumbuhan bank yang memiliki pangsa pasar terbesar di Eropa ini.
Penjualan aset tersebut, bukanlah yang pertama kalinya dilakukan oleh HSBC. Sebelumnya, bank ini telah menjual beberapa kantor cabang di seluruh dunia termasuk ke Bank BUMN Jepang, bank ritel Rusia dan beberapa pebisnis di Amerika Latin.
Sekadar informasi, menurut situs Bank Sentral Libya, HSBC membuka kantor perwakilan di Tripoli pada 2007, meskipun kantor tersebut merupakan hasil akuisisi dari The British Bank di Timur Tengah pada 1959.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar