Senin, 07 Juli 2014

Dolar AS Mulai Kehabisan Tenaga di Pasar Asia


Ilustrasi dolar AS. (Foto: Reuters)  
Dolar Amerika Serikat (AS) mulai kehabisan tenaga di pasar Asia. Melemahnya dolar AS, memberikan euro kesempatan untuk menguat, meskipun output industri Jerman secara tidak terduga mengalami penurunan.

Meski demikian, Greenback berhasil mempertahankan sebagian besar keuntungan yang dibuat pada pekan kemarin, setelah data gaji dan tenaga kerja yang mencatat kenaikan tinggi.

Kinerja loyo Greenback terjadi karena imbal hasil US Treasury tergelincir, setelah Wall Street berbalik hati-hati menjelang musim laba kuartal kedua mulai minggu ini.

"Dengan tidak ada berita menggembirakan baru dan investor tengah menunggu tanda-tanda yang lebih pasti akan kebijakan bank sentral ke depan," kata ahli strategi mata uang senior di National Australia Bank, Emma Lawson, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (8/7/2014).

"Dengan banyak perdagangan konsensus sepanjang tahun yang telah digagalkan, mungkin diperlukan bukti adanya perubahan yang luar biasa, sebelum para investor bergabung dan menciptakan sebuah tren," tambah dia.

Euro diperdagangkan di atas USD1,3600 per euro dari sebelumnya USD1,3576 per euro. Baik euro dan dolar sedikit melemah terhadap yen menjadi 138,60 per yen Jepang dan USD101,84 per yen Jepang.

Mata uang lainnya, seperti poundsterling dan dolar Kanada juga kembali melemah. Poundsterling turun menjadi USD1,7130 setelah gagal untuk kedua kalinya menembus USD1,7180.

output industri Jerman menjadi data yang mengecewakan pada kuartal II ini, dan membuat perekonomian terbesar di Eropa tersebut melambat. Penurunan ini, telah membawa ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara dia Asia, beberapa data lapis kedua masih menjadi perhatian investor, menjelang angka inflasi dari China dan rapat terbaru dari Bank Sentral Amerika the Federal Reserve.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar