Indonesia dan Malaysia, dua produsen minyak kelapa sawit terbesar di
dunia mengatakan, Rabu (22/11), jutaan petani rakyat yang mengelola
perkebunan kelapa sawit skala kecil akan menderita, bila Parlemen Eropa
bersikukuh menjalankan langkah “tidak adil” untuk membatasi penggunaan
minyak kelapa sawit.
Parlemen Eropa pada April, mendukung seruan untuk melakukan
penyelidikan lebih besar terhadap penggunaan kelapa sawit dan minyak
sayuran lainnya untuk biofuel. Langkah ini diambil untuk mencegah agar
target Uni Eropa untuk menggunakan transportasi dengan bahan bakar
energi terbarukan setelah 2020, tidak akan menyebabkan pembabatan hutan
atau deforestasi.
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan Presiden Indonesia Joko
Widodo mengatakan resolusi Parlemen Eropa sengaja menyasar kelapa sawit,
walaupun produksi minyak sayur lainnya juga menyumbang pada laju
deforestasi.
Menurut kedua pemimpin, membatasi akses pasar minyak kelapa sawit
juga tidak membantu target PBB untuk mengentaskan kemiskinan dan
menaikkan pendapatan.
“Setiap kebijakan diskriminatif dari Resolusi itu, tidak saja
dianggap sebagai praktik tidak adil untuk perdagangan, tetapi juga akan
mempengaruhi penghidupan jutaan petani rakyat di Indonesia dan
Malaysia,” kata kedua pemimpin dalam pernyataan bersama.
Ini pertama kalinya kedua negara menimbang isu itu. Najib dan Jokowi
bertemu di Kuching untuk Pertemuan Tahunan Malaysia dan Indonesia ke-12.
Minyak kelapa sawit adalah bahan dasar pembuatan hampir semua
kebutuhan sehari-hari mulai dari minyak goreng hingga sabun dan
kosmetik. Minyak sawit juga menjadi bahan campuran bahan bakar diesel.
Resolusi Parlemen Eropa juga meminta skema tunggal Sertifikasi Kelapa
Sawit Berkelanjutan (CSPO) untuk ekspor kelapa sawit dan minyak sayur
lainnya ke Eropa, untuk memastikan bahwa komoditas ini diproduksi dengan
cara yang ramah lingkungan.
Para legislator Uni Eropa mengatakan langkah ini adalah upaya untuk
diskusi yang lebih luas, setelah kelompok pecinta lingkungan, seperti
Greenpeace memperingatkan dampak merusak pada mitigasi iklim dan
keanekaragaman hayati.
Walaupun laporan tersebut tidak mengikat, legislator Uni Eropa
sekarang sedang menkaji dan mengusulkan amandemen pada rancangan target
biofuel EU, yang kemudian akan disampaikan kepada Komisi Eropa dan
negara anggota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar